Tim Mahasiswa Polteknaker Raih Gold Medal Kategori Agriculture pada 2nd ISC di UPM Malaysia

Jakarta (14/02) – Tim mahasiswa kolaborasi Politeknik Ketenagakerjaan (Polteknaker) dan Universitas Mercu Buana berhasil menorehkan prestasi pada ajang 2nd International Student Competition (ISC) yang diselenggarakan di Universiti Putra Malaysia (UPM), Malaysia, pada Jumat, 14 Februari 2026. Tim yang terdiri atas Safina Alya Dhanari (Polteknaker), Dyra Alifah Bani Rahmadi Tarigan (Polteknaker), Trie Angelina (Polteknaker), Melisa Anastasya Wijaya (Universitas Mercu Buana), dan Alias Azizah (Universitas Mercu Buana) tersebut memperoleh Gold Medal pada kategori Agriculture, meraih penghargaan 3rd Runner Up (overall), serta masuk dalam jajaran Top 8 Best Teams.

2nd International Student Competition (ISC) merupakan forum kompetisi mahasiswa berskala internasional yang mempertemukan peserta dari berbagai perguruan tinggi untuk mempresentasikan gagasan inovatif lintas bidang keilmuan. Proses penilaian dalam kompetisi ini mencakup sejumlah indikator, antara lain tingkat kebaruan ide, relevansi dan urgensi permasalahan yang diangkat, ketepatan solusi yang ditawarkan, serta potensi keberlanjutan dan implementasi gagasan.

Pada kategori Agriculture, tim mengangkat inovasi berjudul “FarmShield 360: Climate-Resilient Agritech Hub, Strengthening Global Food Security Against Climate Extremes.” Gagasan ini dilatarbelakangi oleh meningkatnya kerentanan sektor pertanian terhadap dampak perubahan iklim, termasuk intensitas cuaca ekstrem dan gangguan terhadap produktivitas. Melalui pendekatan agritech hub yang terintegrasi, FarmShield 360 dirancang sebagai model penguatan ketahanan pangan berbasis adaptasi iklim, kolaborasi multipihak, dan orientasi pada solusi yang berkelanjutan.

Perolehan Gold Medal menunjukkan bahwa karya tersebut dinilai unggul dalam aspek relevansi isu, ketajaman analisis, serta kelayakan pendekatan solusi. Sementara itu, capaian 3rd Runner Up (overall) mencerminkan performa tim yang kompetitif secara komprehensif di antara seluruh peserta lintas kategori, baik dari segi substansi gagasan maupun kualitas presentasi dan argumentasi dalam sesi tanya jawab. Predikat Top 8 Best Teams semakin menegaskan konsistensi performa, efektivitas kerja tim, serta kapasitas komunikasi ilmiah yang ditampilkan sepanjang rangkaian kompetisi.

Sekretaris Jenderal Kementerian Ketenagakerjaan turut menyampaikan apresiasi atas capaian tersebut. Ia menilai prestasi ini merefleksikan karakter disiplin, daya juang, serta kapasitas inovatif mahasiswa. Lebih lanjut, capaian tersebut dipandang sebagai indikator bahwa pengembangan kompetensi mahasiswa tidak hanya terfokus pada penguasaan akademik, tetapi juga mencakup kemampuan berpikir kritis, kolaborasi, komunikasi, dan keberanian berpartisipasi dalam forum internasional.

Direktur Politeknik Ketenagakerjaan juga menyampaikan apresiasi dan kebanggaannya atas prestasi yang diraih. Menurutnya, keberhasilan tim merupakan hasil dari proses pembelajaran yang sistematis, persiapan yang matang, serta sinergi dan kekompakan tim selama mengikuti kompetisi.

Dalam proses persiapan, tim melakukan penguatan substansi melalui studi literatur yang komprehensif, pemetaan permasalahan secara sistematis, serta perumusan kerangka solusi berbasis analisis terstruktur. Selain itu, peningkatan kapasitas komunikasi ilmiah dilakukan melalui penyusunan materi presentasi yang argumentatif, latihan penyampaian, serta simulasi sesi tanya jawab guna memastikan kejelasan dan koherensi gagasan di hadapan audiens internasional.

Polteknaker memandang capaian ini sebagai bukti bahwa mahasiswa memiliki kapasitas untuk bersaing pada level global dengan mengangkat isu yang relevan terhadap tantangan internasional. Prestasi tersebut juga menegaskan pentingnya integrasi antara pembelajaran vokasi yang aplikatif dengan penguatan kemampuan riset, inovasi, pemecahan masalah, dan komunikasi profesional.

Ke depan, inovasi yang dihasilkan diharapkan tidak berhenti pada capaian kompetitif semata, melainkan dapat dikembangkan menuju tahap implementasi yang lebih konkret melalui penyempurnaan model, validasi lebih lanjut, serta potensi kolaborasi dengan pemangku kepentingan terkait. Dengan demikian, gagasan yang lahir dari ajang kompetisi internasional dapat memberikan kontribusi yang lebih luas bagi masyarakat dan sektor pertanian.

Prestasi ini diharapkan menjadi inspirasi bagi mahasiswa untuk terus mengembangkan kapasitas diri, memperluas jejaring internasional, serta aktif berpartisipasi dalam forum akademik dan kompetitif yang mendorong lahirnya solusi inovatif bagi berbagai tantangan pembangunan.

Scroll to Top